Ditemukan, Hewan Aneh di Dasar Laut Sulawesi


Cacing cumi atau Teuthidodrilus samae ( Laurence P. Madin / Woods Hole Oceanographic Institute )

VIVAnews -- Spesies baru nan unik ditemukan melimpah di Laut Sulawesi. Seperti cumi-cumi, tapi bukan hewan bertentakel itu. Mirip cacing tapi juga bukan. Akhirnya para ilmuwan sepakat menamakan hewan itu 'squid worm' alias 'cacing cumi'.

Penyebutan sebagai cacing cumi bukan hanya karena bentuknya yang mirip, tapi juga berdasarkan karakteristiknya. Tapi, nama ilmiahnya adalah Teuthidodrilus samae.

Hewan unik itu ditemukan oleh ilmiwan dari Woods Hole Oceanographic Institute dan the University of California, Santa Cruz. Lokasinya berada di Laut Sulawesi. Spesies ini diduga kuat berperan sebagai missing link antara spesies yang hidup di lumpur dasar laut dan yang hanya hidup dalam kolom air.

Para ilmuwan menggunakan kapal penjelajah laut yang dikendalikan jarak jauh di cekungan sedalam 2.800 hingga 2.900 meter di antara Indonesia dan Filipina. Atau hanya berjarak 100 meter dari dasar Laut Sulawesi.

Ahli biologi kelautan Santa Cruz, Karen Osborn mengatakan, warna tubuh cacing cumi adalah transisi dari coklat ke hitam. Otot terbesar di bawah kulitnya yang berwarna merah muda mengkilap digunakan untuk berenang.

"Ini merupakan spesies peralihan antara nenek moyang bentik - makhluk hidup dalam lumpur di dasar laut - dan spesies lain yang hidup di kolom air yang tak pernah pergi ke lantai laut," kata Osborn, seperti dimuat situs MSNBC, Rabu 24 November 2010.

Mempelajari spesies baru diharapkan membantu mengumpulkan sejarah evolusi makhluk dan menentukan karakteristik mereka.

Ditambahkan Osborn, cekungan Laut Sulawesi dikelilingi parit itu. Ini mencegah percampuran spesies di kedalaman 1.500 meter. "Ini sungguh dalam dan terisolasi dari perairan di dalamnya," kata dia.

Baru sedikit eksplorasi yang dilakukan di laut dalam. Hadirnya spesies baru, cacing cumi membuktikan, ada banyak hal yang masih jadi misteri di dasar lautan.

"Penemuan ini menunjukkan berapa banyak yang belum kita tahu ada di bawah sana. Bayangkan hal-hal menarik lain yang bisa jadi berada di dasar laut." (sj)

http://teknologi.vivanews.com/news/read/190298-ditemukan--hewan-aneh-di-dasar-laut-sulawesi
Diposkan oleh MUKHTAR A.Pi. M.Si di 23.11.10

Kunjungan Kadis KP Prop. Bangka Belitung



Pemangkat 22-11-2010
Kunjungan Kadis KP Prop. Bangka Belitung di PPN Pemangkat dalam rangka Koordinasi , Intergrasi, Singkronisasi Presepsi WPP 711 sekaligus silaturahmi ke PPN Pemangkat, karena tujuan sebenarnya adalah untuk mengikuti rapat FKPPS di Pontianak.

Kedatangan rombongan silaturahmi di sambut langsung oleh Kalabuh PPN Pemangkat, dalam rombongan tersebut terlihat mantan kepala PPN Pemangkat Bapak SUTARJO yang kini menjadi Kalabuh Sungai Liat.

Kerja Bakti PPN Pemangkat 18-11-2010


Ath-thahuuru syatrul iimaan…” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi)
dikirim oleh : takbir

Kerja bakti di PPN Pemangkat hari ini tanggal 18-11-2010 yang di komandoi langsung Kepala Pelabuhan Perikanan Musantara Pemangkat.
Adapun sasaran pelaksanaan kegiatan ini ialah membuat saluran air di belakang kantor ,memotong rumput di pinggir jalan penjajap,dan membuat lapangan volli.
Turut serta beberapa instansi dalam kegiatan seperti kepolisian setempat, Perum PPS, dan Dwi tirta.

Daerah Gelombang Tinggi




Daerah Gelombang Tinggi
Berlaku tanggal 16-11-2010,19.00 WIB, sampai dengan 17-11-2010,07.00 WIB
2.0 - 3.0 m Samudera Hindia Barat Bengkulu, Samudera Hindia selatan Jawa, Laut Cina Selatan, Samudera Pasifik timur Philipina, Perairan utara Talaud

Gelombang Laut 5 Meter Mengancam KALBAR



KKP imbau Nelayan Tak Melaut,

Tinggi gelombang pada bulan ini yang mencapai 3-5 meter membuat para nelayan engan melaut.

Kepala dinas KKP Kalbar bekerja sama BMKG kalbar Telah mengeluarkan peringatan ( warning) karena bisa berbahaya dan para nelayan di larang berlayar dalam tempo seminggu kedepankata Gatot Rudiono Kepala KKP Kalbar kepada wartawan di kantor Gubernur. rabu(10/11)

nelayan China Bebas Jarah Ikan di natuna

Mukhtar APi 10 Oktober jam 9:13 Balas • Laporkan

Nelayan China Bebas Jarah Ikan Natuna l

Dikawal Kapal Patroli, DKP Tak Berdaya

Luas wilayah Kepri sekitar 252 ribu kilometer persegi dan 96 persen di antaranya adalah wilayah perairan. Luasnya wilayah perairan itu sudah menggambarkan besarnya potensi perikanan dan kelautan Kepri, sehingga kerap memancing keinginan negara lain untuk ikut menjamahnya. Tak hanya negara tetangga Asean yang ingin merasai nikmatnya kekayaan hasil kelautan Kepri, China yang jauh di seberang juga kerap melakukannya. Kapal ikan China bahkan selalu dikawal dan dilindungi oleh kapal patroli negara tersebut yang dipersenjatai. Insiden antara kapal nelayan China dengan kapal patroli Jepang, berpotensi besar dan bahkan sudah nyaris terjadi di perairan Laut China Selatan, Kabupaten Natuna.


Selama 2008 dan 2009 terdapat sekitar 16 unit kapal ikan China yang berhasil ditangkap oleh kapal patroli perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Indonesia di wilayah perairan Natuna. Namun pada tahun 2010 ini belum ada kapal ikan China yang diamankan. Karena begitu kapal ikan China yang mencuri ikan akan ditangkap oleh DKP, kapal patroli China langsung datang mengancam untuk menembak kapal patroli DKP.


Jika saja kekuatan kapal patroli DKP seimbang dengan kapal patroli China, gesekan langsung antara kapal patroli kedua negara bisa terjadi seperti yang dialami Jepang dengan China. Di samping itu, posisi pencurian ikan yang berada di wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) juga menjadi bahan pertimbangan untuk menghindarkan konflik senjata oleh kapal patroli DKP dengan kapal patroli China tersebut.


”Kejadiannya itu sekitar Mei 2010 atau Juni 2010 kemarin, saya tak ingat tanggalnya nanti coba hubungi kapten kapalnya Saat itu, kapal patroli DKP berhasil mengamankan beberapa kapal ikan China di perairan ZEE Indonesia di wilayah Natuna. Dalam tempo singkat kapal perang China langsung datang. Kekuatan kapal kita tidak seimbang dengan kapal perang China, akhirnya kita terpaksa minggir,” kata Bupati Natuna H Raja Amirullah, Sabtu (2/10) lalu di Tanjungpinang.


Amirullah juga mentransfer rekaman singkat video kejadian tersebut dari ponselnya ke ponsel koran ini dengan fasilitas bluetooth. Walau hanya berdurasi sekitar 2 menit 14 detik, namun dari video tersebut terlihat jelas 2 kapal patroli China yang dipersenjatai lengkap. Kedua unit kapal patroli China itu dari jarak dekat terus mendampingi kapal ikan yang sedang diamankan oleh kapal patroli pengawas DKP Hiu 05 dan Hiu 010.

Saya langsung laporkan kejadian itu ke pemerintah pusat, tegas Amirullah, termasuk melaporkannya secara langsung ke Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Letjen Safri Sjamsuddin di Jakarta. Menurut Amirullah, Wamenhan menanggapi laporannya dengan positif dan berjanji untuk menindaklanjutinya. Meski ditanggapi, namun Amirullah tetap geram terhadap aksi kapal ikan China itu dan prihatin dengan patroli DKP yang tak bisa berbuat apa-apa. ”Mereka hanya dibekali dengan keberanian, dan idealisme, saya salut kepada mereka. Kehadirannya di Natuna berdampak signifikan pada kesejahteraan masyarakat Natuna yang sekitar 80 persennya nelayan. Saya tidak ingat pasti angkanya tapi kenaikan pendapatan nelayan sampai sekitar 600 persen berkat kehadiran kapal patroli DKP,” tegas Amirullah.


Dengan kondisi tersebut, Amirullah berulangkali menyampaikan permintaan ke DKP di Jakarta, agar keberadaan kapal patroli DKP di Natuna diperbanyak jumlahnya dan intensitas pengawasannya terus ditingkatkan. Mengingat dampak positifnya yang nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan Natuna. Dia juga minta Pemprov Kepri berperan lebih aktif dalam pengawasan perairan ini. ”Sebelum adanya kapal patroli DKP, aksi kapal ikan asing bisa dilihat dari pinggir pantai pulau-pulau terluar. Sehingga, nelayan kita takut untuk melaut sebab saat beroperasi mereka (kapal ikan asing, red) dalam rombongan besar. Sekarang, mereka hanya mencuri-curi di wilayah ZEE kita itupun dikawal kapal perangnya,” tukas Amirullah.


Terpaksa Bebaskan Kapal Tangkapan
Kadis Perikanan dan Kelautan Natuna Izwar Aspawi yang dikonfirmasi terpisah, mengakui adanya peningkatan kesejahteraan warga sejak kapal DKP gencar melakukan patroli. Mereka tidak lagi takut atau was-was melaut hingga jauh ke tengah. Sebelum adanya kapal patroli DKP, jangankan ke tengah laut di sekitar pesisir saja mereka sudah was-was. Sebab, kapal ikan asing dalam jumlah besar sudah terlihat dari pinggir pantai.


Sayangnya, Izwar tidak punya data dan angka berapa jumlah potensi laut Natuna dan berapa yang sudah dimanfaatkan serta yang dicuri. Data potensi perikanan Kepri terkini juga tidak ditemukan di website Pemprov Kepri, kepriprov.go.id. Data yang tersedia hanya data tahun 2004. Yang jelas sejak kehadiran kapal patroli DKP di Natuna sudah sekitar 877 unit kapal ikan asing yang berhasil diamankan. Sekitar 33 unit di antaranya ditenggelamkan dan sekitar 17 unit lainnya dipulangkan. Itu sebabnya kapal ikan asing tak lagi berani mendekat ke wilayah perairan Indonesia. Padahal, sebelum adanya kapal paroli DKP kapal ikan asing terkadang masuk sampai ke perairan Jawa.


Terkait dengan kehadiran kehadiran kapal patroli China di perairan ZEE Indonesia di Natuna, dua nakhoda kapal patroli DKP, yaitu nakhoda Kapal Hiu 04 Samuel Sandi dan nakhoda Kapal Hiu 10 Martin Yeremias, membenarkan apa yang disampaikan oleh Bupati Natuna Raja Amirullah. Mereka juga membenarkan kekuatan persenjataan mereka tidak sebanding dengan kapal patroli China. ”Apa yang disebut Pak Bupati itu memang benar, dan saat kejadian kita juga terus melaporkan serta berkomunikasi dengan pimpinan di Jakarta. Ternyata, kapal ikan China itu dikawal dari jarak sekitar 30 mil laut oleh kapal patroli China (bukan kapal perang seperti kata Bupati Amirulah, red). Sehingga, begitu kita amankan dalam waktu singkat mereka sudah sampai,” jawab Samuel yang diamini Martin.


Kejadian itu sudah dua kali terjadi, yaitu pada 15 Mei 2010 dan 22 Juni 2010 sekitar 150 mil laut di dalam wilayah ZEE Indonesia di sekitar Natuna. Kejadian pertama, Sabtu (15/5) sekitar pukul 11.00 dialami kapal patroli pengawas DKP Hiu 04 yang dinakhodai Samuel Sandi. Mereka berhasil mengamankan 2 unit dari 3 unit kapal ikan China (1 kapal lagi kabur, red) yang diduga melakukan pencurian ikan di wilayah ZEE di perairan Natuna atau pada titik koordinat 05 derajat 38’ 10” N – 110 derajat 19’ 05” E.


Baru saja mereka akan melakukan pemeriksaan datang kapal patroli China yang warna catnya putih dengan nomor lambung 301 dengan tulisan Guangzhou di buritannya. Kapal patroli China yang terbuat dari besi dengan panjang sekitar 100 meter itu, dilengkapi dengan senapan mesin berupa 4 unit mitraliur 12,7 dan minta agar kedua kapal ikannya dibebaskan.


Kepada kapal patroli China itu disampaikan bahwa kapal ikannya diduga telah melakukan pencurian ikan di wilayah kedaulatan ekonomi (ZEE) Indonesia. Kemudian, memerintahkannya agar keluar dari perairan ZEE Indonesia. Namun, mereka mengancam akan menembak kapal patroli pengawas Hiu 04 yang terbuat dari fibreglass dengan panjang hanya sekitar 28 meter, jika tidak membebaskan kapal ikannya.


Dengan berbagai pertimbangan seperti cuaca, keselamatan personel dan kekuatan yang tidak seimbang serta terus berkomunikasi dengan pimpinannya, akhirnya kedua kapal ikan China itu dibebaskan sekitar pukul 15.30 WIB. Kejadian serupa kembali terulang, Selasa (22/6), kali ini dengan kapal pengawas DKP Hiu 010 yang dinakhodai Martin Yeremias.


Saat itu Martin mendapat kontak radio bahwa kapal pengawas DKP Hiu 05 sedang mengamankan 1 kapal ikan China dan dihadang oleh 2 unit kapal patroli China dengan nomor lambung 311 dan 303 pada titik koordinat 05 derajat 00’ 00” LU – 109 derajat 00’ 00” BT. Kedua kapal patroli itu tidak beranjak meski sudah diusir agar keluar dari wilayah ZEE Indonesia. Keduanya malah mengancam akan menembak jika kapal ikannya belum dibebaskan sebelum malam tiba. Sama seperti kejadian pertama, kapal ikan China itu akhirnya dibebaskan namun mereka diusir keluar dari wilayah ZEE Indonesia. (SIGIT)

Membela Merah Putih di Laut Cina Selatan

Mukhtar APi 10 Oktober jam 8:35 Balas • Laporkan
batampos.co.id - Berhadapan dengan segala macam kapal ikan asing sudah menjadi makanan sehari-hari baru nakhoda kapal pengawas DKP Hiu 04, Samuel Sandi, 29 dan nakhoda kapal pengawas DKP Hiu 10, Martin Yeremias,35.

Tiada rasa gentar sama sekali, padahal sejumlah kapal ikan asing disebut-sebut dilengkapi dengan senjata. Bahkan juga dikawal kapal pertahanan dari negaranya, dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap dan modern.Seperti saat mereka menghadapi kapal patroli China, yang mengawal kapal ikannya.

Dengan kapal pengawas yang terbuat dari fibreglass dan panjangnya sekitar 20-an meter, mereka juga harus bertarung dengan kondisi laut China Selatan yang kadang kurang bersahabat dengan ketinggian gelombang di atas 6 meter. Tidak ada cara untuk menghadapi cuaca buruk seperti itu, selain mental dan fisik yang kuat, sekaligus skill sebagai pelaut.

Samuel Sandi yang berperawakan agak gemuk dengan kulit terang, menyambut ramah kedatangan Batam Pos, Sabtu (3/10) petang di atas kapal pengawas DKP yang sedang sandar di Dermaga Kampungbulang, Tanjungpinang. Tak lama berselang datang Martin Yeremias yang berperawakan lebih kecil namun sorot matanya tajam dan awas tapi tetap ramah.

Bersama beberapa kapal pengawas DKP lainnya, mereka ditugaskan mengawasi dan mengamankan perairan Kepri hingga ke batas zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di wilayah paling utara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Keduanya mengaku bahagia dan bangga dengan tugas yang diembannya. ”Gimana ya mau bilangnya. Istilahnya begini, biarpun cuma makan telo (ubi rebus, red) tapi kami bangga bisa berbuat dan memberikan sesuatu kepada negara ini. Walaupun yang kami berikan ini mungkin hanya seupil (seujung kuku, red),” kata Martin, yang sudah punya anak satu.

Kebanggaan itu juga sangat dipahami anak dan istrinya, yang berdomisili di Jakarta. Sehingga, meski terkadang harus berpisah lama dan berhadapan dengan risiko tugas yang sangat berat, keluarganya dapat memahaminya. Hal senada disampaikan Samuel Sandi, yang hingga kini masih menjomblo. ”Dukanya gak usah diceritainlah, sukanya aja ya. Sukanya tu kalau berhasil menangkap kapal ikan asing,” tegas Samuel. (git)

PPN Pemangkat Langganan Banjir

Bulan sepuluh merupakan bulan kunjungan banjir di PPN Pemangkat, Rendahnya infrastruktur yang ada membuat para pegawai PPN Pemangkat harus rela lepas sepatu.

Pengujian Mutu Ikan PPN Pemangkat 06-10-2010


Kegiatan pengujian mutu merupakan salah satu kegiatan yang sangat membutuhkan perhatian khusus diPelabuhan Perikanan yang merupakan pusat pendaratan ikan sebelum di pasarkan .
Pengujian mutu dilaksanakan setiap kunjungan kapal bongkar di PPN Pemangkatguna untuk menguji kwalitas layak apa tidaknya ikan-ikan tersebut untuk di konsumsi.
Mengingat belum adanya Fasilitas Labolatorium mutu ikan di PPN Pemangkat, Pengujian mutu ini dilakukan diruang kesyahbandaran .
Untuk pengujian mutu, menurut petugas mutu kedepan perlu di adakannya ruangan khusus dan berbagai peralatan labolatorium sebagai fasilitas pendukung.

Laporan penangkapan Kapal Vietnam

Perayaan Ulang Tahun Ke-47 kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat Bpk Joko Supraptomo.


Suasana Akrab dan Kebersamaan, Bigitulah gambaran perayaan Hari Ulang tahun Kepala PPN Pemangkat yang ke-47.
Kebersamaan ini Nampak dari hadirnya semua pegawai PPN Pemangkat , Perum Prasarana Perikanan Samudera & Para Pengusaha Perikanan.
Perayaan ini diisi dengan makan bersama ,do’a oleh H. Mauludin dan potong kue oleh Bpk Joko Supraptomo yang diberikan kepada istrinya , Selanjutnya yang hadir juga merasakan kue ulang tahun tersebut.

APEL PAGI SETIAP HARI SENIN



Dalam suasana cuaca yang agak mendung Pegawai PPN Pemangkat dengan penuh hikmat melaksanakan kegiatan pertama Apel pagi di halaman kantor PPN Pemangkat pada hari senin tanggal 4 Oktober 2010, pada jam 08.00 WIB. Kegiatan Apel pagi ini langsung di Pimpin oleh Kepala PPN Pemangkat. Beliau berpesan kegiatan apel pagi ini dilaksanakan setiap hari senin. Tidak banyak yang beliau bicarakan dalam memimpin apel pagi yang pertama dilaksanakan, pesan nya bagi pegawai PPN Pemangkat sebelum apel pagi dibubarkan bekerjalah sesuai dengan TUPOKSI dan melakukan koordinasi dengan Kasi nya masing-masing. Apel pagi selesai sekitar jam 08.45 WIB.

Sumber berita

Yusri Kasuma.

HALAL- BILHALAL di PPN Pemangkat 21-09-2010




Melalui puasa kita eratkan silaturahmi dan meningkatkan kerja sama antara pegawai, demikian inti Benang Merah yang bisa diambil dari kegiatan Halal-bilhalal keluarga Besar Pegawai PPN Pemangkat.
dalam acara yang telah dilaksanakan pada hari selasa,12 September 2010 tersebut turut pula hadir perwakilan dari PPS Pemangkat , PT dwi Tirta Investindo , Pengusaha Ikan dan Resot Perikanan kabupaten sambas.
Dalam Sambutan awal, kepala PPN Pemangkat JOKO SUPRAPTOMO menekankan urgensi kedisplinan, Kekompakan, dan saling komunikasi antar pegawai.
Selanjutnya Ustadz TUTUR HIDAYAT SPdi menyampaikan beberapa fenomena tingkat kedisplinan berpuasa di Pemangkat dan beberapa hal terkait syariat berpuasa dan hikmahnya.
Kegiatan halal-bilhala ini ditutup dengan acara makan bersama di Rumak Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat.

Ibu-ibu pengrajin ikan kerupuk



banjir pesanan menjelang lebaran.

Isu Pemerasan Petugas KKP pada Nelayan Malaysia Bohong


Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menepis keterangan dalam laporan polisi Malaysia. Dia tegas-tegas membantah bahwa petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan pemerasan pada nelayan Malaysia.

"Itu isu-isu liar, kita cek tidak ada informasi mendasar mengenai itu. Kita investigasi sendiri cek sama mereka, dan nggak ada itu begitu-begituan (pemerasan)," kata Fadel di kantor Menko Perekonomian, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (6/9/2010).

Dia menjelaskan, bahkan kemudian polisi Malaysia itu yang kemudian menganiaya petugas KKP setelah menangkapnya di Kepulauan Bintan.

"Aparatnya memang kasar-kasar orangnya, makanya saya marah. Tapi karena masuk zona diplomasi makanya kita remlah," imbuhnya.

Dia menegaskan, para polisi yang menganiaya anak buahnya itu kini sedang diperiksa atasannya di kepolisian Johor. "Itu karena permintaan pemerintah kita, mereka diperiksa," imbuhnya.

Fadel menambahkan, anak buahnya itu ditangkap kemudian ditahan, dan dibawa ke kapal. Bukan hanya itu saja, kemudian dibawa di box, dijebloskan ke penjara. "Tangannya diborgol dan ketika keluar pakai baju tahanan," terangnya.

Sementara terkait perundingan Kinabalu, pihaknya telah memberi 12 catatan kepada menteri luar negeri. Isinya mengenai percepatan penyelesaian dengan Malaysia.

"Intinya pembatasan, pembatasan wilayah diberikan lagi ciri-ciri. Lalu tidak lupa kita upayakan kerjasama ekonomi," tutupnya.

Isus penyuapan ini merebak berdasarkan laporan polisi Malaysia yang beredar di kalangan wartawan. Di sana disebutkan bahwa petugas KKP meminta uang 3.500 Ringgit Malaysia kepada keluarga nelayan Malaysia yang ditahan. Hingga kemudian polisi Malaysia menjerat pidana penculikan pada 3 petugas KKP.

Stop Illegal Fishing Indonesia

Mukhtar APi 05 September jam 12:09 Balas
Keberhasilan Pengawas Perikanan dalam menekan kegiatan ILLEGAL FISHING telah menunjukan hasil yang menggembirakan, di perairan Kepulauan Riau para nelayan telah berhasil menangkap ikan yang ukurannya semakin besar. Hal ini tidak mungkin terjadi sebelum DKP memiliki Kapal Patroli dan mampu menekan para pelaku illegal fishing agar tidak masuk semakin jauh ke dalam wilayah perairan kita. sebelum ada Kapal Pengawas Perikanan kapal2 ikan asing asal Thailand dengan leluasa masuk hingga ke perairan Bangka Belitung, ke Kalimantan Barat... Entah dimana aparat keamanan laut kita pada saat itu,...tidurkah mereka?? rasanya tak mungkin mereka tidur?? atau mereka yang justru mempersilahkan kapal ikan asing itu masuk?? entah kitapun tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Ketika DKP mulai memiliki Kapal Pengawas Perikanan, perlahan tapi pasti satu persatu kapal ikan asing itupun mulai tertangkap oleh para pejuang2 perikanan tangguh yang kita miliki, dengan kapal kerupuk mereka maju ketengah samudera menantangganasnya ombak, maju menghalau dan menangkap para pelaku illegal fishing tersebut..... Mereka tak bergeming dengan iming2 dollar, Bath, Dong ataupun Yuan, mereka hanya menginginkan MERAH PUTIH TETAP TEGAK DENGAN SUMBERDAYA IKAN YANG BENAR2 BISA BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT INDONESIA SEBAGAIMANA AMANAT UNDANG UNDANG DASAR 45 PASAL 33...
Tapi fenomena apa yang terjadi, justru karena kegigihan pejuang perikanan kita mempertahankan nama bangsa dan sampai dipenjara di Malaysia... Para petualang2 republik ini, yang entah masih merah putihkah didadanya dengan enteng mengatakan KKP tidak perlu lagi patroli....SELAMAT BAGI PARA PELAKU ILLEGAL FISHING THAILAND, MALAYSIA, VIETNAM DAN CHINA…ANDA TELAH MENJADI PEMENANG… TAK AKAN ADA LAGI KAPAL PUTIH YANG AKAN MENANGKAP KAPAL KALIAN, YANG SELAMA INI TIDAK MAMPU KALIAN BELI…TAPI INI BELUM FINAL… KAMI AKAN BERJUANG!!! (From Jumali)

CUACA BURUK DAN KELANGKAAN BBM DI PPN PEMANGKAT


Cuaca buruk dan kelangkaan BBM di PPN Pemangkat melumpuhkan aktifitas para nelayan baik Nelayan Kecil dan Nelayan Kapal Besar.

CUACA BELUM JUGA BERSAHABAT BAGI NELAYAN KECIL


Sampai turunnya berita ini PPN Pemangkat dan sekitarnya khususnya di Kab.sambas nasib bagi nelayan kecil yang daerah operasinya dipesisir belum jelas.
Gelombang dan angin kencang membuat para nelayan takut untuk melaut , mereka khawatir terdampar dipantai yang mana bisa membuat perahu-perahu mereka berkeping-keing.

CUACA TIDAK BERSAHABAT

Terhitung sejak tanggal 16 & 17 Agustus 2010 hari ini, Nelayan-nelayan kecil GT. 3> tidak bisa melaut dikarenakan cuaca buruk .

Angin yang kencang dan gelombang yang tinggi membuat nelayan- nelayan kecil tidak berani melaut sehingga sementara kapal-kapal mereka hanya di ikat di Dermaga PPN Pemangkat dan juga yang di Pasar Banjar Kuala Pemangkat.

Kapal- kapal kecil ini biasa di sebut LAMDAS ( lampara dasar ) yang jenis penghasilannya adalah Dominan Udang Merah, Udang Putih , alu-alu, pari kecil, Gulama , Belanak & ikan campur lainnya.

Adapun wilayah Oprasi kapal-kapal tersebut di sekitar 1°12'46'82"N 108°57'33'87"E sampai 1°17'00'33'33" N 108°59'59'14'93" E yang sangat dengan pantai sehingga dikwatirkan bisa terhempas kepantai tsb.

Berikut kronologi insiden

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tiga petugas DKP Provinsi Kepulauan Riau ditangkap oleh Marine Police Malaysia (MPM) di perairan Tanjung Berakit, Bintan, saat mengamankan nelayan liar dari Malaysia yang menangkap ikan di perairan Indoensia, Jumat (13/8) malam. Bahkan, polisi laut Malaysia mengeluarkan tembakan peringatan di perairan Indonesia agar petugas DKP Kepri mengembalikan sejumlah kapal beserta nelayan Malaysia tersebut.

Berikut kronologi insiden tentang tertangkapnya kapal ikan asing berbendera Malaysia oleh Pengawas Perikanan Satuan Kerja PSDP Batam dan Pengawas Perikanan Satker PSDKP Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Kronologi yang dibuat oleh Hermanto, Pengawas Perikanan Tanjung Balai Karimun tertanggal 14 Agustus 2010, ini dibagikan saat Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menggelar jumpa pers di Hotel JW Marriot, Jakarta, Minggu (15/8/2010).

- Pada hari Jumat tanggal 13 Agustus 2010 sekira pukul 10.30 WIB, Hermanto (Pengawas Perikanan Tanjung Balai Karimun) mendapat telepon dari saudara Asriadi (Pengawas Perikanan Batam). Asriadi meminta agar KP Dolphin 015 segera dibawa ke Batam untuk dipakai melaksanakan patroli bersama, karena menurut informasi dari masyarakat ada kapal ikan asing berbendera Malaysia melakukan penangkapan ikan di sekitar Perairan Berakit.

- Sekira pukul 14.00 WIB, KP Dolphin 015 beserta 3 anggota Satker DKP Tanjung Balai Karimun yaitu Hermanto, Ridwan, dan Rudi berangkat menuju Batam guna melaksanakan koordinasi dengan saudara Asriadi (Pengawas Perikanan Batam) untuk kelanjutan operasi. Dan sekira pukul 15.30 WIB KP Dolphin 015 tiba di Batam dan langsung berangkat menuju target operasi. Kemudian saudara Asriadi mengarahkan untuk mengisi BBM di Belakang Padang

- Sekira pukul 19.00 WIB, KP Dolphin 015 bergerak ke arah timur (perairan Berakit) untuk memastikan apakah target operasi yaitu kapal Pukat Harimau berbendera Malaysia ada di sekitar perairan Berakit. Sekira setengah jam kemudian KP Dolphin 015 memergoki lima unit kapal ikan asing berbendera Malaysia sedang menangkap ikan. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap lima unit kapal ikan asing berbendera Malaysia tersebut. Saat menuju Batam untuk pemeriksaan, kapal asing berbendera Malaysia itu dikawal 3 anggota Satker DKP yaitu Asriadi, Seivo, Erwan.

- Sekira pukul 21.00 WIB dalam perjalanan menuju Batam, KP Dolphin 015 dihentikan oleh kapal patroli Marine Police Malaysia, yang kemudian memerintahkan anggota DKP yang ada di KP Dolphin 015 untuk naik ke atas kapal Patroli Marine Police Malaysia. Hermanto menjawab bahwa kapal ikan Asing Malaysia ditangkap karena mereka menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia. Kapal Patroli Marine Police Malaysia tidak menanggapi jawaban dari KP Dolphin 015. Lalu kapal Patroli Marine Police Malaysia mengeluarkan tembakan peringatan. Setelah ada tembakan peringatan dari Kapal Patroli Marine Police Malaysia Nakhoda KP Dolphin 015 melarikan diri ke arah lampu Berakit sedangkan kapal nelayan berbendera Malaysia yang dikawal 3 anggota DKP ditangkap Kapal Patroli Marine Police Malaysia.

- Sekira pukul 22.00 WIB Hermanto menghubungi via telepon kepada Komandan Kapal Marine Police Malaysia dengan menggunakan telepon saudara Asriadi dan Saudara Erwan. Marine Police Malaysia memerintahkan Hermanto untuk segera mengantar nelayan Malaysia yang ditangkap KP Dolphin 015 ke kapal Patroli Marine Police Malaysia untuk diganti dengan anggota DKP yang ditangkap oleh Patroli Marine Police. Namun, pihak KP Dolphin 015 tidak setuju, kecuali 3 orang anggota DKP lebih dahulu dilepaskan dengan diantar menggunakan kapal nelayan Malaysia. Karena tidak ada kesepakan maka kapal nelayan Malaysia dan 3 anggota DKP dibawa menuju Malaysia.

- Sekira pukul 02.00 WIB KP Dolphin 015 tiba di Dermaga Dit Pol Air Polda Kepri Sekupang Batam untuk melaksanakan koordinasi sekaligus melaporkan kejadian tersebut.(*)