nelayan China Bebas Jarah Ikan di natuna

Mukhtar APi 10 Oktober jam 9:13 Balas • Laporkan

Nelayan China Bebas Jarah Ikan Natuna l

Dikawal Kapal Patroli, DKP Tak Berdaya

Luas wilayah Kepri sekitar 252 ribu kilometer persegi dan 96 persen di antaranya adalah wilayah perairan. Luasnya wilayah perairan itu sudah menggambarkan besarnya potensi perikanan dan kelautan Kepri, sehingga kerap memancing keinginan negara lain untuk ikut menjamahnya. Tak hanya negara tetangga Asean yang ingin merasai nikmatnya kekayaan hasil kelautan Kepri, China yang jauh di seberang juga kerap melakukannya. Kapal ikan China bahkan selalu dikawal dan dilindungi oleh kapal patroli negara tersebut yang dipersenjatai. Insiden antara kapal nelayan China dengan kapal patroli Jepang, berpotensi besar dan bahkan sudah nyaris terjadi di perairan Laut China Selatan, Kabupaten Natuna.


Selama 2008 dan 2009 terdapat sekitar 16 unit kapal ikan China yang berhasil ditangkap oleh kapal patroli perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Indonesia di wilayah perairan Natuna. Namun pada tahun 2010 ini belum ada kapal ikan China yang diamankan. Karena begitu kapal ikan China yang mencuri ikan akan ditangkap oleh DKP, kapal patroli China langsung datang mengancam untuk menembak kapal patroli DKP.


Jika saja kekuatan kapal patroli DKP seimbang dengan kapal patroli China, gesekan langsung antara kapal patroli kedua negara bisa terjadi seperti yang dialami Jepang dengan China. Di samping itu, posisi pencurian ikan yang berada di wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) juga menjadi bahan pertimbangan untuk menghindarkan konflik senjata oleh kapal patroli DKP dengan kapal patroli China tersebut.


”Kejadiannya itu sekitar Mei 2010 atau Juni 2010 kemarin, saya tak ingat tanggalnya nanti coba hubungi kapten kapalnya Saat itu, kapal patroli DKP berhasil mengamankan beberapa kapal ikan China di perairan ZEE Indonesia di wilayah Natuna. Dalam tempo singkat kapal perang China langsung datang. Kekuatan kapal kita tidak seimbang dengan kapal perang China, akhirnya kita terpaksa minggir,” kata Bupati Natuna H Raja Amirullah, Sabtu (2/10) lalu di Tanjungpinang.


Amirullah juga mentransfer rekaman singkat video kejadian tersebut dari ponselnya ke ponsel koran ini dengan fasilitas bluetooth. Walau hanya berdurasi sekitar 2 menit 14 detik, namun dari video tersebut terlihat jelas 2 kapal patroli China yang dipersenjatai lengkap. Kedua unit kapal patroli China itu dari jarak dekat terus mendampingi kapal ikan yang sedang diamankan oleh kapal patroli pengawas DKP Hiu 05 dan Hiu 010.

Saya langsung laporkan kejadian itu ke pemerintah pusat, tegas Amirullah, termasuk melaporkannya secara langsung ke Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Letjen Safri Sjamsuddin di Jakarta. Menurut Amirullah, Wamenhan menanggapi laporannya dengan positif dan berjanji untuk menindaklanjutinya. Meski ditanggapi, namun Amirullah tetap geram terhadap aksi kapal ikan China itu dan prihatin dengan patroli DKP yang tak bisa berbuat apa-apa. ”Mereka hanya dibekali dengan keberanian, dan idealisme, saya salut kepada mereka. Kehadirannya di Natuna berdampak signifikan pada kesejahteraan masyarakat Natuna yang sekitar 80 persennya nelayan. Saya tidak ingat pasti angkanya tapi kenaikan pendapatan nelayan sampai sekitar 600 persen berkat kehadiran kapal patroli DKP,” tegas Amirullah.


Dengan kondisi tersebut, Amirullah berulangkali menyampaikan permintaan ke DKP di Jakarta, agar keberadaan kapal patroli DKP di Natuna diperbanyak jumlahnya dan intensitas pengawasannya terus ditingkatkan. Mengingat dampak positifnya yang nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan Natuna. Dia juga minta Pemprov Kepri berperan lebih aktif dalam pengawasan perairan ini. ”Sebelum adanya kapal patroli DKP, aksi kapal ikan asing bisa dilihat dari pinggir pantai pulau-pulau terluar. Sehingga, nelayan kita takut untuk melaut sebab saat beroperasi mereka (kapal ikan asing, red) dalam rombongan besar. Sekarang, mereka hanya mencuri-curi di wilayah ZEE kita itupun dikawal kapal perangnya,” tukas Amirullah.


Terpaksa Bebaskan Kapal Tangkapan
Kadis Perikanan dan Kelautan Natuna Izwar Aspawi yang dikonfirmasi terpisah, mengakui adanya peningkatan kesejahteraan warga sejak kapal DKP gencar melakukan patroli. Mereka tidak lagi takut atau was-was melaut hingga jauh ke tengah. Sebelum adanya kapal patroli DKP, jangankan ke tengah laut di sekitar pesisir saja mereka sudah was-was. Sebab, kapal ikan asing dalam jumlah besar sudah terlihat dari pinggir pantai.


Sayangnya, Izwar tidak punya data dan angka berapa jumlah potensi laut Natuna dan berapa yang sudah dimanfaatkan serta yang dicuri. Data potensi perikanan Kepri terkini juga tidak ditemukan di website Pemprov Kepri, kepriprov.go.id. Data yang tersedia hanya data tahun 2004. Yang jelas sejak kehadiran kapal patroli DKP di Natuna sudah sekitar 877 unit kapal ikan asing yang berhasil diamankan. Sekitar 33 unit di antaranya ditenggelamkan dan sekitar 17 unit lainnya dipulangkan. Itu sebabnya kapal ikan asing tak lagi berani mendekat ke wilayah perairan Indonesia. Padahal, sebelum adanya kapal paroli DKP kapal ikan asing terkadang masuk sampai ke perairan Jawa.


Terkait dengan kehadiran kehadiran kapal patroli China di perairan ZEE Indonesia di Natuna, dua nakhoda kapal patroli DKP, yaitu nakhoda Kapal Hiu 04 Samuel Sandi dan nakhoda Kapal Hiu 10 Martin Yeremias, membenarkan apa yang disampaikan oleh Bupati Natuna Raja Amirullah. Mereka juga membenarkan kekuatan persenjataan mereka tidak sebanding dengan kapal patroli China. ”Apa yang disebut Pak Bupati itu memang benar, dan saat kejadian kita juga terus melaporkan serta berkomunikasi dengan pimpinan di Jakarta. Ternyata, kapal ikan China itu dikawal dari jarak sekitar 30 mil laut oleh kapal patroli China (bukan kapal perang seperti kata Bupati Amirulah, red). Sehingga, begitu kita amankan dalam waktu singkat mereka sudah sampai,” jawab Samuel yang diamini Martin.


Kejadian itu sudah dua kali terjadi, yaitu pada 15 Mei 2010 dan 22 Juni 2010 sekitar 150 mil laut di dalam wilayah ZEE Indonesia di sekitar Natuna. Kejadian pertama, Sabtu (15/5) sekitar pukul 11.00 dialami kapal patroli pengawas DKP Hiu 04 yang dinakhodai Samuel Sandi. Mereka berhasil mengamankan 2 unit dari 3 unit kapal ikan China (1 kapal lagi kabur, red) yang diduga melakukan pencurian ikan di wilayah ZEE di perairan Natuna atau pada titik koordinat 05 derajat 38’ 10” N – 110 derajat 19’ 05” E.


Baru saja mereka akan melakukan pemeriksaan datang kapal patroli China yang warna catnya putih dengan nomor lambung 301 dengan tulisan Guangzhou di buritannya. Kapal patroli China yang terbuat dari besi dengan panjang sekitar 100 meter itu, dilengkapi dengan senapan mesin berupa 4 unit mitraliur 12,7 dan minta agar kedua kapal ikannya dibebaskan.


Kepada kapal patroli China itu disampaikan bahwa kapal ikannya diduga telah melakukan pencurian ikan di wilayah kedaulatan ekonomi (ZEE) Indonesia. Kemudian, memerintahkannya agar keluar dari perairan ZEE Indonesia. Namun, mereka mengancam akan menembak kapal patroli pengawas Hiu 04 yang terbuat dari fibreglass dengan panjang hanya sekitar 28 meter, jika tidak membebaskan kapal ikannya.


Dengan berbagai pertimbangan seperti cuaca, keselamatan personel dan kekuatan yang tidak seimbang serta terus berkomunikasi dengan pimpinannya, akhirnya kedua kapal ikan China itu dibebaskan sekitar pukul 15.30 WIB. Kejadian serupa kembali terulang, Selasa (22/6), kali ini dengan kapal pengawas DKP Hiu 010 yang dinakhodai Martin Yeremias.


Saat itu Martin mendapat kontak radio bahwa kapal pengawas DKP Hiu 05 sedang mengamankan 1 kapal ikan China dan dihadang oleh 2 unit kapal patroli China dengan nomor lambung 311 dan 303 pada titik koordinat 05 derajat 00’ 00” LU – 109 derajat 00’ 00” BT. Kedua kapal patroli itu tidak beranjak meski sudah diusir agar keluar dari wilayah ZEE Indonesia. Keduanya malah mengancam akan menembak jika kapal ikannya belum dibebaskan sebelum malam tiba. Sama seperti kejadian pertama, kapal ikan China itu akhirnya dibebaskan namun mereka diusir keluar dari wilayah ZEE Indonesia. (SIGIT)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Demi kemajuan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI kami memohon saran dan kritik anda melalui layanan ini atau di no 085825296056 untuk via sms.